Implementasi antropomorfisme: Taktik jitu periklanan produk dengan efikasi yang abstrak

Antropomorfisme (“anthropos” = manusia, dan “morphe” = bentuk) merupakan pemberian bentuk, sifat, emosi, atau perilaku manusia kepada makhluk (maupun objek) non-manusia (misalnya: hewan, benda mati, fenomena alam, maupun konsep abstrak). Dengan demikian, antropomorfisme adalah kecenderungan seseorang untuk mempersepsikan objek non-manusia sebagai manusia.

Untuk produk-produk dengan khasiat/kegunaan yang bersifat abstrak, maka akan lebih mudah disampaikan pesannya pada iklan dengan menggunakan karakter anthropomorphic mirip manusia. Mirip di sini maknanya adalah mirip secara tampilan fisik, perilaku, maupun mental states, dengan manusia. Misalnya pada iklan sebuah produk racun nyamuk bakar. Digambarkan asap produknya membentuk kepalan tangan, kemudian meng-KO nyamuk hingga terkapar.

Konsekuensi dari terciptanya antropomorfisme adalah minat beli konsumen, secara langsung, maupun tidak langsung melalui “perceived product efficacy“. Pada iklan, antropomorfisme ini dapat ditampilkan dalam bentuk demonstrasi (visual, audio, dan gerak), maupun hanya dengan narasi suara (speaking). Tentu saja dugaannya adalah antropomorfisme pada kondisi demonstrasi akan lebih besar dibandingkan pada antropomorfisme “speaking“. Semakin tinggi tingkat kemiripan karakter iklan dengan manusia, dapat diduga akan menciptakan tingkat antropomorfisme yang semakin tinggi pula (linear). Dampaknya adalah persepsi positif akan efikasi produk yang dirasakan, menjadi semakin besar.

Pemilihan “archetype” karakter anthropomorphic, harus disesuaikan dengan kategori produk dan efikasi apa yang hendak dikomunikasikan. Misalnya untuk produk minuman berenergi, mungkin karakter “archetype-nya” adalah Superhero. Rasa letih, lesu, lemah, dapat digambarkan pula sebagai “virus” yang mengganggu dan melemahkan stamina tubuh.

Dengan menggambarkan efikasi produk minuman berenergi sebagai Superhero, diharapkan pesan yang disampaikan akan lebih mudah dipahami audiens. Dampaknya adalah audiens (konsumen) menyukai akan produk maupun brand, muncul intensi untuk membeli, bahkan memutuskan untuk melakukan pembelian.

Penulis: Budi Setiawan

Ilustrasi gambar dibuat dengan AI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *